Pages

Selasa, 17 Agustus 2010

KISAH NYATA JAMAAH


Pertolongan Misteri di Tanah Suci

Seorang perempuan paruh baya terlihat menuntun istri saya keluar dari tempat jumrah.

Sungguh Allah SWT memberi pertolongan kepada hamba-Nya tanpa bisa diduga maupun dianalisa. Itu terjadi di Tanah Suci, tempat ibadah haji. Saya bersama istri dan ibu saya (70 tahun dan buta) melaksanakan ibadah haji pada tahun 2002.

Kami bertiga mengikuti KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji) Yayasan Wadi Fatimah Kabupaten Cirebon Jawa Barat pimpinan KH Drs Slamet Firdaus. Kami sendiri tergabung dalam rombongan yang diketuai H Saefudin. Pemberangkatan dari Jakarta ke Tanah Suci berjalan tanpa hambatan. Ketika sampai di Jeddah, seluruh jamaah haji mulai melaksanakan ihram, baik ihram umrah (bagi yang melaksanakan haji tamattu) maupun ihram haji (bagi yang melaksanakan haji ifrad).



Ketika berada di Makkah, kami melaksanakan thawaf qudum, sai, wukuf di Arofah, bermalam di Muzdalifah, sampai di Mina, pun tidak ada masalah. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar sesuai dengan program semula. Pada saat tiba waktunya lontar jumrah aqabah, kami bersepakat dengan persetujuan ketua kelompok (H Saefudin) bahwa yang akan melontarkan jumrah aqabah ibu saya adalah saya sendiri sebagai anaknya. Sebab ibu saya sudah tidak bisa melihat.

Maka berangkatlah saya dan istri bersama kelompok yang dipimpin H Saefudin untuk melontar jumrah aqabah. Barangkali sudah maklum bahwa pada saat lontar jumrah aqabah semua jamaah haji tujuannya hanya satu, yaitu bentuk sumur untuk lontar jumrah. Dari segala penjuru angin dipadati jamaah haji. Maka rombongan kami akhirnya terpisah dengan sendirinya. Atas pertolongan Allah, saya dan istri bisa lontar jumrah tepat di depan sumur. Saya dan istri melontar secara bersamaan sambil mengawasi bila ada lontaran jamaah haji lain yang gagal atau meleset yang akan mengenai kami.

Alhamdulillah saya dan istri sukses menunaikannya. Tinggal giliran saya untuk melontarkan jumrah bagi ibu saya. Tanpa saya sadari luapan manusia yang begitu banyak membuat posisi istri saya tambah terdesak oleh jamaah haji yang akan melontar jumrah aqabah. Masya Allah, betapa hebatnya gelombang manusia, kata saya dalam hati seraya tak lupa menyebut asma Allah.

Ditolong wanita tua
Karena situasi demikian saya yang belum melontar jumrah untuk ibu kemudian mengambil inisiatif untuk mengeluarkan istri terlebih dahulu menuju tiang jembatan. Tiang tersebut berada di dekat pos polisi yang sedang menjaga keamanan (kurang lebih 15 meter) dari tempat lontar jumrah. Namun, rupanya untuk keluar tidak semudah yang dibayangkan. Karena kondisinya saat itu kami keluar melawan arus. Tanpa diduga muncul seorang perempuan paruh baya yang tidak saya kenal, kemudian terlihat menuntun istri ke tempat yang dituju (tiang jembatan).

Hebatnya lagi, perempuan itu dan istri saya berjalan mudah sekali, tanpa ada hambatan sedikit pun. Karena istri sudah bisa keluar dengan mudah, saya kemudian meneruskan niat saya melempar jumrah untuk orang tua. Setelah saya selesai melontarkan jumrah yang kedua untuk ibu, saya langsung melihat ke tempat istri menunggu. Istri saya pun segera menyambutnya dengan melambaikan kerudung hijau yang menjadi ciri khas KBIH Yayasan Wadi Fatimah.

Saya kemudian menuju ke tiang jembatan tanpa rintangan. Setelah sampai, istri saya menangis gembira, karena ada yang menolong ketika posisinya terjepit dan dia selamat dari desakan jamaah haji.
"Tadi siapa yang menuntun dan menolongmu?" tanya saya pada istri saya. "Seorang perempuan tinggi," jawab istri saya, singkat.
"Terus, mana orangnya?"
"Itulah Pak, makanya saya m enangis. Tadi saya tanya, tapi dia menjawab seperlunya, kemudian dia langsung menghilang begitu saja. Saya sudah mencari dengan kemampuan pandangan mata saya, tapi tidak ketemu," jelas istri saya, dengan ekspresi keheranan.

"Bagaimana kamu bisa berkomunikasi dengan dia, padahal tadi saya lihat sekilas dari wajahnya kalau dia bukan orang Melayu (Indonesia atau Malaysia)?"
"Perempuan itu memang berbicara menggunakan bahasa Indonesia. Namun setelah saya tanya asal negaranya, dia mengaku dari Palestina. Cuma itu yang saya tahu tentang dia, tidak lebih," istri saya terlihat gemetar. "Masya Allah! Itulah pertolongan dari Allah. Allahu akbar! Mari kita lanjutkan ritual ibadah kita," kata saya pada istri saya. Itulah pengalaman nyata yang dialami oleh istri saya di Mina pada saat lontar jumrah aqabah. Semoga ada manfaatnya bagi jamaah haji dan kaum muslimin.
( ) http://www.infoanda.com/linksfollow.php?lh=Ul0NV1QOAAAF, Republika

0 komentar:

Poskan Komentar