Pages

Sabtu, 14 Agustus 2010

TATA CARA HAJI IFRAD


Dari 3 macam haji (untuk sekedar mengingatnya kembali bahwa pelaksanaan ibadah haji ada tiga cara yaitu: Haji Tamattu', Haji Ifrad dan Haji Qiran) haji IFRAD adalah haji yang dipilih pula oleh jamaah haji KBIH wadi Fatimah walaupun jumlahnya sangat sedikit,namun dalam materi bimbingan manasik tata cara haji ifrad juga tetap diberikan baik teori maupun praktek,

untuk menambah pemahaman kita terutama bagi yang tidak sempat mengikuti session teori, berikut ini kami akan uraikan secara lebih detil pelaksanaan ibadah haji dengan cara Ifrad'.
HAJI IFRAD

Haji Ifrad ialah melaksanakan haji saja. Cara ini tidak dikenakan Dam Nusuk. Cara pelaksanaan haji ifrad ini dianjurkan oleh Rasulullah SAW kepada para sahabat / jamaah haji ketika melaksanakan haji wada' yang datang ke Makkah membawa hewan ternak. Meskipun demikian jamaah haji juga dianjurkan menyembelih hewan qurban. Karena itu jika ingin melaksanakan ibadah haji dengan cara ifrad ini dengan alasan hanya untuk menghindari penyembelihan Dam Nusuk adalah kurang tepat. Pelaksanaan haji dengan cara ifrad ini menjadi pilihan bagi jamaah haji Indonesia gelombang II yang datang ke Makkah sudah mendekati waktu wukuf.

Pelaksanaan Haji Ifrad

Pelaksanaan ihram haji untuk jamaah haji gelombang I, miqot hajinya di Bir Ali/ Dzulhulaifah di Madinah. Sedangkan bagi jamaah haji gelombang II, miqot hajinya bisa di atas pesawat saat melintasi Yalamlam atau di Bandara King Abdul Aziz - Jeddah. Hal-hal yang perlu dipersiapkan sebelum melaksanakan ihram haji yaitu:

a. Bersuci yaitu mandi dan wudhu *

b. Berpakaian ihram

c. Sholat Sunah Ihram 2 rakaat

d. Niat Haji (lihat Niat Haji )

(* bagi jamaah haji gelombang I, mandi dilakukan di Hotel sebelum berangkat ke Bir Ali. Sedangkan jamaah haji gelombang II, mandinya bisa dilakukan di Asrama Haji Embarkasi)

Ketika kita sudah meniatkan haji maka detik itu pula larangan-larangan ihram berlaku hingga pelasanaan tahallul awal (melontar jamrah Aqobah dan mencukur rambut) selesai. Karena itu jagalah larangan ihram ini jangan sampai melanggarnya.

Setelah miqot haji selesai maka jamaah haji akan diberangkatkan menuju Makkah. Selama dalam perjalanan perbanyaklah bertalbiyah dan berdzikir.

Sesampai di Makkah ( berdoalah dengan Doa Masuk Makkah ), jamaah haji akan mempersiapkan pelaksanaan thawaf. Jamaah haji bisa beristrahat dahulu sebelum melaksanaan thawaf agar rasa capeknya hilang dan badan jadi segar.

Sesampai di Masjidil Haram:

1. Masuk Masjid dan berdoa dengan Doa Masuk Masjidil Haram
2. Melihat Ka.bah dan berdoa dengan Doa Melihat Ka'bah
3. Melaksanakan Thawaf Qudum (lihat masalah Thawaf ) dan berdoa dengan Doa Thawaf
4. Selesai Thawaf, boleh melaksanakan Sai dan berdoa dengan Doa Sa'i . Tetapi tidak diakhiri dengan tahallul atau mencukur rambut.

(* jika setelah thawaf kemudian dilanjutkan dengan sa'i maka ketika thawaf ifadhah tidak perlu sa'i lagi. Jika melaksanakan thawaf saja tanpa sa'i maka ketika thawaf ifadhah disertai dengan sa'i)

Selama di Makkah sambil menanti waktu wukuf tetap dalam keadaan ihram dan larangan-larangan ihram masih tetap berlaku sampai pelaksanaan tahallul awalnya selesai. Karena itu pelaksanaan haji dengan cara ifrad ini sangatlah berat khususnya dalam menjaga larangan-larangan ihramnya.

2. Pelaksanaan Ibadah Haji

Jamaah haji yang melaksanakan ibadah haji dengan cara ifrad maka ketika persiapan ke Arofah Tanggal 8 DZulhijjah untuk wukuf, tidak perlu mempersiapkan diri untuk niat ihram hajinya lagi, seperti halnya haji tamattu' karena mereka masih dalam kondisi berihram. Selanjutnya proses ibadah hajinya sama seperti pelaksanaan haji tamattu.

Persiapan Berangkat ke Arofah untuk Wukuf Tanggal 8 Dzulhijjah

1. Membawa pakaian secukupnya untuk 4 hari selama di Mina, buku doa, sajadah, senter kecil, tikar lipat (perlak), obat-obatan dan peralatan mandi.
2. Menjelang siang hari jamaah haji akan diberangkatkan ke Arofah oleh Maktab dengan bis secara bergilir biasanya sesuai urutan hasil qur'ah Ketua Kloter dengan Maktab. Tiba di Arofah (berdoa dengan Doa masuk Arofah ) secara bergelombang biasanya sampai malam hari. Jamaah haji sebaiknya banyak istirahat untuk persiapan wukuf esok hari.
3. Pagi hari tanggal 9 Dzulhijjah setelah makan pagi sebaiknya jamaah haji beristirahat (1-2 jam) mungkin semalam tidak bisa tidur agar tubuh segar dan tidak mengantuk selama wukuf.
4. Waktu wukuf mulai tergelincir matahari sampai terbenam matahari. Saat wukuf merupakan waktu mustajabah untuk berdoa jangan disia-siakan hanya dengan tidur. Kegiatan selama wukuf: Mendengarka Khubat Wukuf
5. Sholat Dhuhur Dijamak dan Qoshar
6. Berdzikir, Membaca Al Quran, Berdoa, Tafakur dan Taqarrub ke hadirat Allah SWT.
7. Sebaiknya tetap berada di kemah selama wukuf untuk menghindari sengatan matahari. Bila ke kamar mandi, carilah waktu-waktu senggang/ lengang agar tidak terlalu lama antri.
8. Jagalah larangan-larangan ihram jangan sampai Anda melanggarnya.
9. Sore hari setelah maghrib jamaah haji akan diberangkatkan menuju Muzdalifah untuk mabit disana. Pemberangkatan secara bergelombang sesuai urutan. Janganlah berebut dan ingatlah kita masih dalam kondisi ihram.

Di Muzdalifah

1. Sesampai di Muzdalifah (berdoa dengan Doa Ketika Sampai di Muzdalifah ), jamaah haji akan ditempatkan dalam suatu area terbuka dimana area tersebut berpagar dan hanya diberi tanda dengan Nomor Maktab. Pintu masuk berbeda dengan pintu keluar. Sebaiknya Anda tidak perlu berjalan-jalan, bisa kesasar atau kesingsal ke maktab lain, akibatnya Anda akan diberangkatkan ke kemah di Mina yang berbeda dengan maktab Anda.
2. Selama mabit di Muzdalifah, jamaah haji bisa mencari kerikil untuk melontar jamrah Aqobah sebanyak 7-10 butir. Jika melontar jamrah sampai tanggal 13 Dzulhijjah maka jumlah kerikil yang dikumpulkan sebanyak 70 butir kerikil. Jamaah haji bisa mencari kerikil di sekitar toilet karena disana sudah disediakan kerikil dalam jumlah yang banyak.
3. Lewat tengah malam jamaah haji akan diberangkatkan lagi menuju ke kemah di Mina untuk melaksanakan melontar jamrah. Berhati-hatilah biasanya di pintu keluar, jamaah haji pada berebut naik bis bahkan tak jarang saling dorong dan salin caci maki, berbuat jidal (berbantah-bantahan) padahal masih dalam kondisi ihram.
4. Selama mabit perbanyaklah dzikir dan berdoa jika lelah Anda bisa istirahat/ tidur jika memungkinkan.

Di Mina Tanggal 10 Dzulhijjah

1. Sesampai di Mina (berdoa dengan Doa Sampai di Mina ), masuklah ke kemah-kemah yang telah disediakan oleh Maktab. Beristirahatlah secukupnya untuk persiapan melontar jamrah Aqobah.
2. Bersegeralah melaksanakan melontar jamrah aqobah agar Anda bisa segera melaksanakan Tahallul Awal sehingga bisa terbebas dari larangan ihram. Sebaiknya Anda minta mutawwif untuk memandu jalan ke jamarat. Sebelum melontar jamrah sebaiknya carilah tempat untuk "janjian ketemu" jika ada yang tersesat atau terlepas dari rombongan. Laksanakan melontar jamarot secara berombongan disertai Pembimbing Anda agar Anda tidak tersesat. Di Mina banyak terjadi kasus orang yang tersesat karena arah jalannya satu jalur jika salah ambil jalan maka akan memutar yang jauh padahal ditempuh dengan jalan kaki.
3. Bila ingin melontar jamrah lihatlah situasi dan kondisi yang ada. Jika terlalu padat dan bersesakan sebaiknya tunda dulu melontar jamrahnya. Carilah waktu-waktu yang longgar. Ingat keselamatan jamaah haji adalah prioritas utama! Jangan cari afdhal tapi dengan mengorbankan diri sendiri.
4. Setelah melontar jamrah Aqobah carilah tempat yang sepi di pinggir jamarot untuk melaksanakan Tahallul Awal dengan mencukur rambut minimal 3 helai rambut. Setelah itu pulang kembali ke tempat kemah. Jika Anda telah melaksanakan Tahallul Awal maka pakaian ihram bisa dilepas dan bisa berpakaian biasa. Anda sudah terbebas dari larangan-larangan ihram kecuali hubungan suami istri. Berisirahatlah dengan cukup di kemah guna mempersiapkan diri untuk melontar jamrah Ula, Wustha dan aqobah pada tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah.
5. Setelah selesai melaksanakan melontar jamrah baik mengambil nafar awal ataupun nafar tsani. jamaah haji akan pulang ke pondokan/ hotel di makkah

Kembali ke Pondokan Di Makkah

1. Setelah pulang dari Mina, sebaiknya beristirahatlah dahulu untuk memulihkan tenaga. Jika kondisi badan sehat dan memungkinkan bersegeralah menyempuranakan Rukun Haji yaitu melaksanakan Thawaf Ifadhah dan Sa'i di Masjidil Haram (tanpa mencukur rambut lagi!). Jika ketika melaksanakan Thawaf Qudumnya disertai dengan sa'i maka thawaf ifadhanya tidak perlu lagi dengan sa'i.
2. Jika ada ibu-ibu usia subur yang haid atau jamaah yang sakit, tunda dahulu pelaksanaan thawaf ifadhahnya. Bila haidnya sudah selesai atau sakitnya sudah sembuh bersegeralah melaksanakan thawaf ifadhah dan sa'i. Jika telah melaksanakan thawaf ifadhah dan sa'i berarti jamaah haji telah terbebas dari seluruh larangan-larangan ihram termasuk melakukan hubungan suami istri bagi suami istri tentunya.
3. Selesailah ibadah haji kita. Tinggal menunggu pelaksanaan thawaf wada' sebelum ke Madinah bagi gelombang II dan pulang ke Tanah Air bagi gelombang I.

2 komentar:

As ww ! Bapak / Ibuk Admin Yang di Rachmati Allah, saya pribadi sangat berterima kasih pada Bapak/Ibuk, yang mana penjelasan atas Haji Ifrad ini sangat jelas sekali. Namun, melihat kepada kenyataan yang ada di lapangan serta beberapa budaya yang ada di daerah kita (terutama di daerah saya di kota kecil di Sumatera barat), yang mana para calon jemaah haji biasanya di antar oleh masyarakat sekampung hingga kebatas kota atau batas desa dengan berjalan kaki, di mana sesampai di batas, ketua rombobngan yang mengantar melantunkan azan ! setelah itu baru calon jemaah haji naik ke angkot untuk menuju bus di lapangan pemberangkatan, sesampai dilapangan pemberangkatan, dengan seremonial-seremonial pihak jemaah dilepas dengan menaiki bus untuk langsung menuju embarkasi pemberangkatan (asrama haji). Dan di Asrama Haji, bermalam semalam untuk cek akhir kesehatan, baru besok paginya berangkat lagi dengan bus menuju bandara, untuk langsung ke jedah atau madinah. Nach pertanyaannya, apakah niat sebaiknya di pasang setelah turun dari rumah atau setelah turun dari asrama, mohon juga penjelasannnya serta apakah pakaian ihram itu tidak sebaiknya di pakai di rumah atau dari asrama haji Pak/Ibuk Admin ! Terima Kasih, Semoga Allah SWT akan selalu memberikan petunjuknya kepada kita semua untuk kesempurnaan ibadah haji kaum muslimin dan muslimat di masa datang. Wassalam zulmadi Padang Sumbar

Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh

Sesuai dengan rute perjalanan haji yang ditetapkan dan dijadwalkan pemerintah bagi jama'ah haji Indonesia, yaitu gelombang pertama dan gelombang kedua. Rute perjalanan haji gelombang pertama ke Madinah al-Munawwarah terlebih dahulu kemudian ke Mekkah al-Mukarramah yang miqat untuk melakukan ihram umrahnya (haji Tamattu') atau ihram hajinya (haji Ifrad) dari Bir Ali (Dzu al-Hulayfah) sudah tidak ada masalah, karena sesuai dengan petunjuk dan contoh dari Nabi saw. Sedangkan rute perjalanan haji gelombang kedua langsung ke Mekkah al-Mukarramah kemudian perjalanan berikutnya ke Madinah al-Munawwarah berhadapan dengan problem miqat untuk memulai ihramnya. Terdapat dua pendapat. Pendapat pertama memperkenankan, bahkan meyakini berihram umrah bagi jama'ah yang memilih haji Tamattu' atau berihram haji bagi jama'ah yang menetapkan diri melaksanakan haji Ifrad di Bandara King Abdul Aziz Jeddah, dan pendapat kedua menetapkan Qarn al-Manazil sebagai miqatnya, jika memilih pendapat kedua, maka resikonya berihram di pesawat udara, mengingat Qarn al-Manazil (sebagai miqat yang ditetapkan oleh Nabi saw) dilewati oleh pesawat terbang jama'ah haji. Oleh karena itu, untuk mempermudah pelaksanaan ihramnya, memakai kain ihram berikut sunnah-sunnahnya, seperti mandi ihram dan salat sunnah ihram dilakukan di asrama haji Bekasi bagi mereka yang berasal dari Jawa Barat, sementara niat ihramnya di pesawat terbang. Bagi jama'ah haji dari wilayah lainnya, dapat menggunakan kain ihram dan sunnah-sunnahnya tersebut dari asrama haji atau bandaranya masing-masing. Jadi setiap jama'ah haji yang tergolong ke dalam gelombang kedua, dapat memilih salah satu dari kedua pendapat tersebut. Kami dari Wadi Fatimah memilih pendapat kedua, maka teknis pelaksanaannya menggunakan kain ihram berikut sunnah-sunnahnya dari asrama haji Beka si Jawa Barat, dan niat ihramnya di pesawat udara. Hal penting diamalkan oleh kita adalah saling menghargai antarasesama kita di tengah-tengah perbedaan. Departemen Agama (pemerintah) memperkenankan jama'ah haji gelomnbang kedua untuk memilih salah satu dari kedunya. Terima kasih semoga bermanfaat. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Posting Komentar